Manufacturing Hope

Dahlan Iskan tentang Poligami


Dahlan Iskan didampingi istrinya Nafsiah Sabri mengunjungi rumah warga di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat (28/3/12) | Foto oleh : ANTARA

Isu poligami sudah sejak lama menerpa Menteri BUMN Dahlan Iskan. Saat Dahlan maju menjadi peserta Konvensi Partai Demokrat, isu ini kembali mengemuka. Bahkan salah satu pesaing Dahlan di Konvensi Demokrat juga sempat mengungkit isu poligami ini di hadapan pers. Dahlan sendiri menanggapi tudingan poligami terhadap dirinya dengan santai dan berkelakar. “Saya punya istri empat. Yang pertama Nafsiah, kedua Nafsiah, ketiga Nafsiah, keempat Nafsiah,” ujarnya di hadapan para wartawan ketika berlangsung Meet  the Press Konvensi Demokrat 6 Januari 2014. 

Sejumlah orang juga sempat menanyakan tentang poligami kepada Dahlan melalui Twitter. Dahlan yang menggunakan akun @iskan_dahlan seperti biasa meresponnya dengan santai dan penuh canda. Cuitan-cuitan ini kemudian dimasukkan ke dalam bab Poligami Dahlan di buku Dahlan Is Dahlan Can yang ditulis wartawan Sutan Eries Adlin (NouraBooks 2013). Misalnya ketika akun @beccemakassar salah satu follower Dahlan bertanya tentang poligami “om dahlan punya istri brp om?” tulis @beccemakassar. Dahlan  menjawabnya ringan dengan menyitir lirik lagu lawas, “Aku tak mau jikalau aku dimadu. Pulangkan saja ke rumah orang tuamu.” (tweet tanggal 16 Juni 2012 ). Di kicauannya yang lain, 28 Juni 2012, Dahlan nyeletuk, “Ada sidang kabinet izti. Itu istri ketiga sy hehe.”

Di bab Poligami Dahlan, ada pula kicauan Dahlan Iskan dengan nada bercanda menjawab pertanyaan follower-nya tentang Azrul Ananda, anak Dahlan. “Azrul anak kandung istri saya. Saya hanya sponsornya! Ha ha.” Begitu tweet menjelaskan tentang Azrul anaknya yang kini menjadi CEO Jawa Pos Group.

Di penutup bab Poligami Dahlan, penulis mengutip suara hati Dahlan tentang istrinya, Nafsiah Sabri. “Istri itu seperti puisi.” Itulah tweet Dahlan pada 14 Mei 2012. Nafsiah Sabri  adalah perempuan yang dinikahi Dahlan pada tahun 1975. Saat itu Dahlan berusia 25 tahun dan Nafsiah 22 tahun. Mereka berkenalan  saat keduanya aktif  di organisasi Pelajar Islam Indonesia. Selain itu  mereka juga mengisi acara pengajian Alquran di sebuah radio di Samarinda, di mana Nafsiah sering membaca Alquran dan Dahlan menjadi penceramah agama.Tertarik kepada sosok Nafsiah, Dahlan kerap menawari Nafsiah membonceng sepedanya untuk berangkat siaran bersama. 

Dalam suatu kesempatan, Nafsiah mengenang sosok Dahlan yang tidak romantis saat mereka berpacaran. “Aku ini dulu yang habis-habisan memacari dia. Dia hanya sesekali saja romantis, itu juga biasanya kalau ada maunya,” kata Nafsiah. 

Di awal pernikahan mereka, Nafsiah yang bekerja sebagai guru Sekolah Dasar lah yang banyak menopang kehidupan keluarga. Dahlan dan Nafsiah menyewa rumah sangat sederhana di Samarinda, Kalimantan Timur. Seluruh tiang rumah sewaan ini menancap di Sungai Karang Mumus, anak Sungai Mahakam. Hanya teras rumahnya yang menempel di bibir jalan raya. Tak ada perabotan memadai di rumah itu. Kasur tempat mereka tidur pun harus digulung kalau siang hari, agar rumah tanpa kamar itu tetap terasa lebar.Ketika anak pertama Azrul Ananda lahir, mereka  akhirnya bisa menyewa rumah yang ada kamarnya meski berlokasi di gang sempit. 

Nafsiah adalah pendamping setia Dahlan yang dikenal sebagai seorang pekerja keras. Saat Dahlan hendak berangkat kerja, Nafsiah seringkali memanggil dan mengejar Dahlan sampai pekarangan rumah untuk sekedar membetulkan kerah baju yang tidak teratur. Kadang, dia menyisir rambut Dahlan yang awut-awutan. 

Kesabaran dan kesetiaan Nafsiah sebagai istri pulalah yang mengantarkan Dahlan Iskan sejak awal membangun rumah tangga dalam kondisi serba kekurangan hingga menapaki tangga keberhasilan seperti hari ini. Tak heran meskipun lebih sering guyon dan jarang bersikap romantis, Dahlan pernah menulis tweet yang menyentuh hati bahwa “Istri adalah puisi”. 

 


(Adv)


Berita terkait

Galeri terkait